Rabu, 18 Desember 2013

9 Penderitaan Anak Indigo

Terlahir sebagai anak indigo bukanlah sebuah pilihan, tetapi merupakan takdir yang tidak bisa dihindari. Ketika dia menyadari kehadirannya bukan sebagai orang biasa, merasakan kemarahan yang besar terhadap perilaku manusia yang buruk dan jahat, melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat oranglain, ingin merubah dunia menjadi lebih baik dengan kekuatan sendiri, saat itu dia tidak bisa lagi melepaskan diri dari tanggung jawab karena dia sudah menyadari bahwa dia adalah seorang anak indigo.

Hari-harinya dipenuhi oleh pemikiran-pemikiran yang mendesak, susah tidur dengan tenang dan penglihatan-pengelihatan yang menganggu pikiran dan perasaan, seperti hidupnya sudah ditakdirkan untuk menanggung semua itu. Dia mungkin bisa melupakannya untuk beberapa saat, tetapi pemikiran-pemikiran dan suara-suara akan terus mengisi hari dan malamnya.

Berikut adalah 9 penderitaan yang harus ditanggung oleh anak indigo sebagai resiko keindigoannya. Dampaknya bisa dikurangi apabila mendapatkan bimbingan dan penyembuhan yang tepat. Bagi sebagian anak indigo proses penyembuhan bisa dilakukan sendiri tanpa bantuan oranglain.

1. Sakit kepala yang hebat. Hampir semua indigo pernah mengalami sakit kepala yang hebat. Hal ini disebabkan proses berfikir yang keras tanpa dikehendaki, banyak hal yang ingin dilakukan tapi tidak bisa diatasi, dan pikiran yang terlalu luas memasuki hal-hal yang tidak bisa disentuh oleh pemikiran manusia pada umumnya. Kondisi ini memerlukan energi besar dan proses berfikir yang berat. Terapi obat mungkin bisa membantu, tetapi bersifat non-permanen dan beresiko kelebihan pemakaian karena penggunaan yang terus-menerus. Meditasi dan perbaikan aura cakra adalah terapi terbaik, selain bisa dilakukan sendiri juga mempunyai resiko yang lebih ringan. Mungkin juga perlu belajar memperlambat detak jantung dan menurunkan tekanan darah.

2. Susah tidur. Suara-suara yang menganggu, penampakan-penampakan, melihat penderitaan alam, sukma yang berjalan kemana-mana, dan pemikiran-pemikiran idealis yang menuntut perwujudan membuat seorang anak indigo susah untuk tidur. Walaupun mata terpejam tetapi tetap mendengar dan berfikir. Anak Indigo harus belajar untuk sering berkoneksi dengan Tuhan lebih intensif dan berpasrah dengan segenap jiwa kepada-Nya. Lepaskan semua beban pikiran, mintalah petunjuk dan serahkan kepada-Nya untuk menyelesaikaan.

3. Lambung yang lemah. Salah satu organ tubuh yang paling menderita disebabkan strees karena berfikir dengan berat adalah lambung. Lambung yang lemah akan bereaksi negatif berupa produksi asam lambung yang berlebihan pada saat anak indigo strees. Makan obat sakit lambung secukupnya dan perbanyak ibadah serta lakukan meditasi untuk penenangan.

4. Empati yang menyakitkan. Tidak mudah untuk berempati terhadap penderitaan oranglain, atau alam yang sedang dizholimi oleh manusia-manusia jahat dan serakah, sedangkan sedikit yang bisa dilakukan untuk memperbaiki keadaan buruk itu. Rasa empati ini sering kali berakibat buruk kepada anak indigo. Disebabkan kepekaan yang berlebihan pada anak indigo, rasa empati yang mendalam bisa menjadikan dirinya ikut menderita. Rasa empati terhadap orang yang sakit bisa membuat anak indigo menderita penyakit yang sama, seperti terjadi penularan walaupun bukan penyakit yang menular. Untuk mengurangi efek negatif rasa empati yang mendalam ini sebagian anak indigo mengambil sikap tidak acuh yang berlebihan. Sehingga mereka tampak sebagai anak yang tidak peduli lingkungan sosial yang tidak mau bergaul. Sebaiknya rasa empati disalurkan ke dalam bentuk tindakan langsung seperti mengobati orang yang sakit atau berdo’a kepada Tuhan untuk kesembuhan dan kebaikan oranglain. Penyaluran energi dalam bentuk kepasrahan kepada Tuhan adalah jalan yang paling efektif.

5. Rasa marah yang mendesak. Rasa marah melihat perilaku manusia yang buruk dan jahat adalah alasan utama seorang anak indigo ingin menunaikan kewajibannya. Rasa marah ini  kemudian berwujud menjadi semangat yang besar untuk mengubah keadaan menjadi yang lebih baik. Bagi anak indigo yang belum bisa menemukan jati dirinya, biasanya rasa marah ini bisa berakibat buruk terhadap perilakunya kepada orang disekitarnya. Perlawanan dan protes-protes akan selalu ditunjukkannya kepada orang di sekelilingnya, seperti orangtua, saudara-saudaranya, dan guru disekolah yang tidak memahami keadaannya.

6. Kepribadian yang berubah-ubah. Persinggungan anak indigo dengan dimensi supranatural yang terlalu sering dan mendalam mengakibatkan pengaruh negatif berupa “jejak yang tertinggal”. Hal ini semacam sisa-sisa efek elektromagnetik pada sel-sel otak. Jejak-jejak dimensi lain ini kemudian akan berulang berupa “kunjungan-kunjungan” yang berlanjut. Karena suara dari dimensi lain itu datang berupa gelombang yang kemudian ditafsirkan sebagai suara di dalam batin, seringkali anak indigo mengalami efek kebingungan berupa kepribadian ganda. Bahkan seringkali antar “pribadi” terjadi pertentangan pendapat dalam menghadapi suatu permasalahan. Untuk mengatasi hal ini anak indigo harus mempertajam indera keenamnya untuk membedakan setiap “pribadi” yang datang. Mungkin diri anak indigo akan menjadi sebuah forum pertemuan berbagai “pribadi”, namun sebagai pribadi yang bebas seorang anak indigo harus mampu mandiri dan mempunyai pandangan atau keyakinan yang kuat. Jadikan setiap infomasi yang datang sebagai pengetahuan dan dimanfaatkan seperlunya sesuai dengan kebutuhan.

7. Dilematis. Ada sebagian anak indigo – umumnya yang sudah menginjak remaja – yang mengalami kebingungan untuk memilih antara dua hal, apakah akan terus menjadi anak indigo dengan atribut dan tanggung jawabnya atau berusaha memadamkan keindigoannya dan tidak peduli dengan apapun yang terjadi disekitarnya. Kedua pilhan itu sama-sama tidak enak, terlebih-lebih kalau harus memadamkan keindigoannya, sedangkan tuntutan tanggung jawab terus mengejar-ngejar. Bisa-bisa hidup seorang indigo akan dihantui perasaan bersalah sampai dewasanya.

8. Cap “aneh”. Cap “aneh” sebetulnya lumrah bagi anak indigo. Tetapi stempel “aneh” ini akan menjadi permasalahan serius bagi anak-anak yang belum bisa menerima penolakan lingkungan. Perlu pengertian orangtua dan orang disekitarnya untuk tidak terlalu memposisikan anak indigo sebagai “alien” dilingkungannya sendiri.

9. Dijauhi teman-teman. Beberapa anak indigo dijauhi dalam pergaulan teman sebayanya karena dia lebih sering menjadi “orangtua” bagi teman-temannya, ketimbang sebagai teman bermain. Peringatan-peringatan, nasehat dan larangan-larangan membuat anak-anak lain jengkel dan menjauh. Walaupun kesendirian lebih disukai oleh anak indigo daripada berkumpul dengan teman-temannya, sebaiknya dia tetap harus bersosialisasi dengan tetap bersekolah dan bermain bersama keluarga.

Bagi para orangtua dan guru anak-anak indigo hendaknya memahami bahwa anak indigo mempunyai kondisi kejiwaan yang khusus. Pemahaman orang-orang disekitarnya atas keadaan mereka akan sangat membantu penyembuhan luka batin yang dialaminya. Menjadi tanggung jawab kita bersama menghantarkan mereka menuju keberhasilan hidup dimasa dewasanya kelak.

Semoga bermanfaat…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar