Masih ingat saat-saat dimana kamu dengan
polosnya tersenyum hanya dengan mengingat dia yang kamu sukai? Rasa senang
ketika dia mengajak pergi bersama atau bahkan hanya sekedar menyapa dirimu
ketika berpapasan di lorong sekolah? Hal-hal kecil yang begitu membuatmu
bahagia untuk pertama kalinya kamu rasakan dan itu membuatnya sulit untuk
dilupakan.
Berpura-pura salah mengirim pesan, padahal
dirimu memang sengaja melakukannya agar bisa memulai komunikasi dengannya. Atau
mungkin, dengan sengaja meminjam pena miliknya dengan alasan tinta penamu habis
atau ketinggalan di rumah. Kedengaran bodoh memang saat kamu kembali
mengenangnya, namun disaat itu tidak ada hal yang tidak akan kamu lakukan
asalkan dia sadar akan perasaanmu padanya.
Yang kamu tahu adalah kamu suka melihatnya,
kamu senang mendengar suaranya, kamu bahagia jika bisa berinteraksi dengannya,
sesederhana itu rasa dari cinta pertama. Bahkan jika temanmu mengatakan kalau
dia terlihat kurang menawan, kurang menarik perhatian, namun di matamu dia
terlihat sempurna dengan segala kekurangan dan kelebihan dirinya.
Cinta pertama selalu diidentikkan dengan masa
remaja. Masa-masa dimana kamu menikmati hidup dengan sepenuhnya, tanpa disisipi
rasa khawatir dengan problematika khas dunia dewasa. Saat itu, yang kamu tahu
adalah cinta, cita-cita dan persahabatan. Waktu dimana kamu bebas berimajinasi
dan merencanakan hidupmu. Tentu saja dalam impian masa depanmu itu terselip
keinginan besar untuk menghabiskan waktu tumbuh dewasa bersama dengan cinta
pertamamu.
Cinta pertama tidak selamanya berakhir bahagia
dan kamu mungkin saja pernah mengalaminya. Ada yang cinta pertamanya bertepuk
sebelah tangan dan ada juga yang sudah menjalani hubungan, namun putus di
tengah jalan. Saat itu kamu merasakan bahwa cinta pertama datang sepaket dengan
rasa patah hati yang begitu menyiksa untuk pertama kalinya.
Sakit namun tak berdarah. Mungkin bagi sebagian
kamu, butuh waktu lama untuk menyudahi patah hati setelah menyadari cinta
pertamamu tidak seindah yang kamu bayangkan. Cinta pertama menempa dirimu.
Dulunya mungkin kamu tidak terlalu tertarik untuk belajar, namun setelah
menyukainya kamu mati-matian ingin menjadi pintar seperti dirinya. Kamu yang
dulunya cuek dengan masalah penampilan, berusahan untuk tampil sebaik mungkin
di hadapannya.
Percaya atau tidak, usaha-usahamu dulu ketika
menarik perhatian cinta pertamamu membawa dampak bagi dirimu yang sekarang.
Mungkin kamu tidak berhasil mewujudkan cinta pertamamu menjadi cinta
terakhirmu, namun pelajaran hidup yang kamu dapatkan saat mencintainya tidak
akan pernah menjadi sia-sia. Semua orang pasti akan selalu mengingat hal-hal
yang mereka rasakan untuk pertama kalinya. Begitu pun dengan rasa cinta. Sampai
kapanpun, kamu pasti akan ingat siapa yang menjadi cinta pertamamu dan
bagaimana dia bisa membuatmu begitu bahagia di kala itu.
Takkan ada yang menanyakan siapa cinta keduamu,
ketigamu, atau bahkan keseratusmu, karena yang orang-orang tanyakan hanyalah
siapa yang pernah mengisi relung hatimu untuk pertama kalanya alias cinta
pertamamu…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar