Senin, 14 Mei 2018

Luapan Rasa Untukmu...

Sedikit ungkapan yang kiranya mampu kutulis. Entah apa yang akan terjadi nantinya, bukankah Tuhan selalu tahu bagaimana cinta itu bisa dipersatukan? Karena yang bisa kulakukan hanya berjuang. Itu saja.

Yah, yang mampu aku lakukan ialah hanya berupaya lebih keras, bahwa menujumu adalah kesukaran yang selalu aku inginkan menjadi kenyataan. Kasihku, ini bagaikan tetesan air yang sedang mencoba melunakan batu keras yang kamu sebut dengan “hatimu”.

Kamu tidak perlu repot-repot untuk mengetahui apa saja yang ku lakukan untuk menujumu. Aku melakukannya atas dasar keinginan yang telah lama membatu dipalung hatiku. Kamu tidak akan pernah tahu, bahkan tidak perlu sama sekali, tentang peluh yang kerap kali ku tempuh demi dapat bersama denganmu.

Bahkan dalam mencintai pun aku pernah salah dalam beranggapan, namun aku pun kembali tersadar, bahwa kamu yang indah pun masih saja merupakan sebagian bukan keseluruhan. Menganggapmu sebagai segalanya merupakan kesalahan, padahal kamu hanya sedikit dari anugerah yang Dia berikan.

Khayalanku ini hanya dalam rangka menghibur diri, walaupun aku sudah mengerti tentang apa yang sebenarnya terjadi. Namun setidaknya, aku pernah berjuang mati-matian kan? Aku ini pandai sekali dalam beranggapan, walau yang terjadi sebenarnya malah jauh diluar dugaan.

Mungkin sedikit, aku hanya mampu sedikit berujar ditiap kali jumpa, dan mengatakan bahwa aku ini cinta. Namun sepertinya kamu tidak beranggapan demikian. Entah yang kamu anggap itu apa. Yang jelas aku ini tetap rembulan, yang akan bersegera menghilang saat kamu bertemu dengan dia yang lebih terang.

Entah apa jadinya hati yang akan ku berikan padamu ini, bila tidak dengan menulis. Namun kamu tidak perlu khawatir. Aku akan selalu memperbaiki harapan itu meski telah berkali-kali engkau jatuhkan. Malam itu selalu menjadi sajak ku. Karena bila tidak dengan menulis. Mungkin hati yang kamu miliki ini, akan mudah kamu lihat remuk nan miris.

Aku tidak banyak mengerti tentang cinta seperti apa yang tengah ku jalani, namun kamu tahu? Bila cinta itu kamu. Aku akan tetap bertahan meski sayap-sayapnya menusuk tubuhku. Tentu saja cinta itu merepotkan, namun denganmu. Hal yang paling memilukan pun terlihat menyenangkan.

Kenapa waktu tidak mau berjalan lambat dikala aku bersamamu dan kenapa ia tak mau berjalan cepat disaat aku menunggumu? Ah entah lah, aku mulai menggila sendiri dengan kicauku. Meski menawarkan kehangatan, senja itu akan selalu cepat berlalu dan menghilang.

Entah apa yang membuatku tetap bertahan selama ini. Namun ada satu jawaban yang ku anggap itu pasti, semua itu karena “kamu”. Jangan terlalu yakin. Aku menaruh hati bukannya aku tidak di inginkan yang lain. Namun karena bersamamu, kepada yang lain, aku tidak tertarik lagi.

Mungkin sulit dalam mebayangkan akan seperti apa aku ini, namun lukisan-lukisan itu akan semakin jelas setelah goresan-goresan kecil kembali menghujam, dan mungkin seperti ini. Aku ini mawar biru yang tercipta warnanya dari tangis dan kisah pilu. Namun bagaimana denganmu? Kamu adalah kupu-kupu yang tidak pernah sekalipun menginginkan bahagia denganku.

Aku tidak mengerti hukum seperti apa yang kamu terapkan, namun apakah cara seperti ini dapat kamu benarkan? Dan kenapa harus aku yang menanggung beban seberat ini. Bukankah dia yang menyakitimu? Kenapa harus aku yang kamu hukum dengan ragumu?

Aku pun pernah takjub atas kelebihan yang dimiliki oleh orang-orang dari masa lalumu. Namun bagaimana denganku? Apa kamu sudah melihatku secara utuh? Kamu bilang sudah melupakan dia yang menggores luka. Namun ditiap kali kamu membicarakannya, matamu sekilas terlihat bercahaya bagai berkata “Aku ingin kembali”.

Di tiap kali aku ingin menyerah, perjuangan ku yang lalu selalu kembali mengingatkan. Setelah begitu banyak waktu yang ikut menjadi korban, kenapa aku harus menjadi lemah dengan menyerah sejauh ini? Kamu tahu kenapa aku begitu gigih dalam memperjuangkanmu? Karena saat bersamamu, cinta itu terasa hidup, sekalipun kamu tidak menginginkan. Namun hatiku tetap teguh atas pendirian yang ia patri bertahun-tahun silam.

Ah aku benar-benar bingung tentang rindu itu apa. Mungkin aku hanya akan berpasrah, setelah lama berjelaga dengan rindu yang bahkan kamu anggap tiada. Sebenarnya, terbuat dari apa rindu itu? Mana mungkin ia tetap tidak runtuh meski cobaan dan waktu kerap kali menumbuhkan ragu diatas pilu…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar