Sedikit ungkapan yang
kiranya mampu kutulis. Entah apa yang akan terjadi nantinya, bukankah Tuhan
selalu tahu bagaimana cinta itu bisa dipersatukan? Karena yang bisa
kulakukan hanya berjuang. Itu saja.
Yah, yang mampu aku
lakukan ialah hanya berupaya lebih keras, bahwa menujumu adalah kesukaran yang
selalu aku inginkan menjadi kenyataan. Kasihku, ini bagaikan tetesan air
yang sedang mencoba melunakan batu keras yang kamu sebut dengan “hatimu”.
Kamu tidak perlu
repot-repot untuk mengetahui apa saja yang ku lakukan untuk menujumu. Aku
melakukannya atas dasar keinginan yang telah lama membatu dipalung hatiku. Kamu
tidak akan pernah tahu, bahkan tidak perlu sama sekali, tentang peluh yang
kerap kali ku tempuh demi dapat bersama denganmu.
Bahkan dalam mencintai
pun aku pernah salah dalam beranggapan, namun aku pun kembali tersadar, bahwa
kamu yang indah pun masih saja merupakan sebagian bukan
keseluruhan. Menganggapmu sebagai segalanya merupakan kesalahan, padahal
kamu hanya sedikit dari anugerah yang Dia berikan.
Khayalanku ini hanya
dalam rangka menghibur diri, walaupun aku sudah mengerti tentang apa yang
sebenarnya terjadi. Namun setidaknya, aku pernah berjuang mati-matian kan? Aku
ini pandai sekali dalam beranggapan, walau yang terjadi sebenarnya malah jauh
diluar dugaan.
Mungkin sedikit, aku
hanya mampu sedikit berujar ditiap kali jumpa, dan mengatakan bahwa aku ini
cinta. Namun sepertinya kamu tidak beranggapan demikian. Entah yang kamu
anggap itu apa. Yang jelas aku ini tetap rembulan, yang akan bersegera
menghilang saat kamu bertemu dengan dia yang lebih terang.
Entah apa jadinya
hati yang akan ku berikan padamu ini, bila tidak dengan menulis. Namun kamu
tidak perlu khawatir. Aku akan selalu memperbaiki harapan itu meski telah
berkali-kali engkau jatuhkan. Malam itu selalu menjadi sajak ku. Karena
bila tidak dengan menulis. Mungkin hati yang kamu miliki ini, akan mudah kamu
lihat remuk nan miris.
Aku tidak banyak
mengerti tentang cinta seperti apa yang tengah ku jalani, namun kamu tahu? Bila
cinta itu kamu. Aku akan tetap bertahan meski sayap-sayapnya menusuk tubuhku. Tentu
saja cinta itu merepotkan, namun denganmu. Hal yang paling memilukan pun
terlihat menyenangkan.
Kenapa waktu tidak
mau berjalan lambat dikala aku bersamamu dan kenapa ia tak mau berjalan cepat
disaat aku menunggumu? Ah entah lah, aku mulai menggila sendiri dengan
kicauku. Meski menawarkan kehangatan, senja itu akan selalu cepat berlalu
dan menghilang.
Entah apa yang
membuatku tetap bertahan selama ini. Namun ada satu jawaban yang ku anggap itu
pasti, semua itu karena “kamu”. Jangan terlalu yakin. Aku menaruh hati
bukannya aku tidak di inginkan yang lain. Namun karena bersamamu, kepada yang
lain, aku tidak tertarik lagi.
Mungkin sulit dalam
mebayangkan akan seperti apa aku ini, namun lukisan-lukisan itu akan semakin
jelas setelah goresan-goresan kecil kembali menghujam, dan mungkin seperti
ini. Aku ini mawar biru yang tercipta warnanya dari tangis dan kisah pilu. Namun
bagaimana denganmu? Kamu adalah kupu-kupu yang tidak pernah sekalipun
menginginkan bahagia denganku.
Aku tidak mengerti
hukum seperti apa yang kamu terapkan, namun apakah cara seperti ini dapat kamu
benarkan? Dan kenapa harus aku yang menanggung beban seberat ini. Bukankah
dia yang menyakitimu? Kenapa harus aku yang kamu hukum dengan ragumu?
Aku pun pernah takjub
atas kelebihan yang dimiliki oleh orang-orang dari masa lalumu. Namun bagaimana
denganku? Apa kamu sudah melihatku secara utuh? Kamu bilang sudah
melupakan dia yang menggores luka. Namun ditiap kali kamu membicarakannya,
matamu sekilas terlihat bercahaya bagai berkata “Aku ingin kembali”.
Di tiap kali aku
ingin menyerah, perjuangan ku yang lalu selalu kembali mengingatkan. Setelah
begitu banyak waktu yang ikut menjadi korban, kenapa aku harus menjadi lemah
dengan menyerah sejauh ini? Kamu tahu kenapa aku begitu gigih dalam
memperjuangkanmu? Karena saat bersamamu, cinta itu terasa hidup, sekalipun kamu
tidak menginginkan. Namun hatiku tetap teguh atas pendirian yang ia patri
bertahun-tahun silam.
Ah aku benar-benar
bingung tentang rindu itu apa. Mungkin aku hanya akan berpasrah, setelah lama
berjelaga dengan rindu yang bahkan kamu anggap tiada. Sebenarnya, terbuat
dari apa rindu itu? Mana mungkin ia tetap tidak runtuh meski cobaan dan waktu
kerap kali menumbuhkan ragu diatas pilu…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar