Kamis, 28 Agustus 2014

Rasa itu...

Pelangi itu sudah tidak seindah dulu, kini ia mulai sering merusak hingga ulu hatiku. Perasaan ini terasa sesak saat aku ingat kembali raut wajah dan tatapan tajam matanya. Bagai simfoni membisu di suatu keramaian, kini aku sendiri dalam sepi. Terkadang aku bertanya mengapa kedudukan bintang jauh diatas bulan, padahal yang kutahu bintang mengambil cahaya bulan. “Cahayanya sampai ke bintang, ambilkan bu untuk menerangi tidurku yang lelap di malam gelap” sebuah lagu pun tau bahwa bulan si pemilik sumber cahaya, namun mengapa bintang bisa lebih unggul dan menarik dimata oranglain? Entahlah akupun mulai tidak mampu memahami keadaan ini, aku semakin sulit mengerti atas apa yang aku lakukan sekarang. Ini semua membuat kelabu fikiranku. Aku terus mengikuti detak jarum jam yang terdengar di ruangan ini yang semakin sunyi. Saat aku tersadar bahwa semuanya semakin menghilang, aku takut apa yang aku lakukan selama ini tidak berguna sama sekali. Aku masih tidak ingin ini berakhir begitu saja. Semuanya menjadi kacau, semrawut, dan hampir sirna.

Aku segera bangkit dari renunganku dan melihat kesekelilingku saat ternyata aku sedang sendiri dalam sepi. Ruangan ini terasa semakin gelap dan tidak bercahaya. Hampalah sudah kini, karena semuanya telah hancur berantakan. Aku pernah merasa bangga saat aku sedang berada di puncak. Dan mereka bilang aku adalah seorang bintang. Tapi tidak ada yang istimewa jika aku hadir di siang hari bukan ? Bintang hanya akan terlihat menarik saat yang lain mulai meredup, saat yang lain menghilang bintanglah yang paling terang, coba letakan aku dibawah sorot lampu menderang, kalian bisa tau bahwa aku bukan siapa-siapa. Semua ini menjadi hujan air mata saat langkahku harus terhenti. Cukup, aku tidak ingin melihat dan mengingatnya lagi. Terlalu buruk untuk aku ingat dan hanya akan meninmbulkan pedih yang luar biasa, Padahal yang kutahu kita memiliki tujuan yang sama, hanya jalan sajalah yang berbeda.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar